Saturday, May 31, 2008

New...

Tomorrow is a new day...
It's gonna be better than today...

Hari ini menikmati kesenangan sahaja

Friday, February 08, 2008

DATA??? SELESAIII!!!

Sujud syukur diriku haturkan di warnet tercinta dan ternggak-jelas ini...
Gimana tidak, telah jutaan (aih, lebai banget), maksudnya ratusan (kalo ini nggak lebai lhoo) jam telah daku habiskan dan gelontorkan...

Yang penting, sekarang semua data yang -harusnya- gw butuhkan sudah gw miliki...
Entah, apa yang akan terjadi selanjutnya, yang pasti, perjalanan panjang akan segera menjadi aral melintang yang seakan menjaga gerbang kelulusan diriku...

LEVEL ONE, COMPLETE!!!

Next Level...
LOADING...........



PS: Ucapan terima kasih (titipan dari si MiLo..)
1. Tuhan Yesus Kristus - yang dengan sabar menjaga dan menyediakan berkatNya bagi diriku... Daku janji akan lebih serius dan lebih beriman lagi...
2. Si Cantik - yang senantiasa menyemangati, mengusili, mem-bombo-i, dan membuat mata daku yang terjaga lebih lama... Tokcer dah... ROSOOO!@@@
3. Mbak-mbak Warnet - yang walopun jutek dan nggak lolos seleksi jadi CSO tapi tetep punya peran lah...
4. Mas-Mas Warnet - yang lebih bersahabat daripada Mbaknya, yang mengizinkan gw nyoba-nyoba komputer dulu, walopun sering nongol dan ngintip tanpa izin... Untung gw browser baik-baik!
5. Semua pihak yang telah membantu pelaksanaan pencarian data ini... Semoga, kumpulan data yang telah daku dapat membawa diriku kepada arah kedewasaan yang lebih baik...

Hidup Mahasiswa!!!

Sunday, February 03, 2008

Setahun...

Di ujung jalan itu,
Setahun kemarin...




Tak terbayangkan. Mungkin demikian frasa yang tepat menggambarkan keadaan selama tepat setahun ini, terhitung titik mula di ujung jalan gereja dirinya, 4 Februari '07...

Perasaan mungkin spesimen paling volatil di jagad raya, toh tetap saja kehadirannya selalu menyemarakkan rasa. Setidaknya, kala rasa yang tercipta bukan nelangsa dan derita.
In my case, justru tawa, dan cinta...

Rasanya, memang cuma 2 hal itu yang paling tepat menggambarkan bagaimana kisah kami bermula. (Jadi ingat si Rosanti -sang mbak JCo. Entah dimana dia sekarang-)

Perjalanan pastinya masih jauh, dan jalan masih terbentang. Namun untuk saat ini, rasa kuatir dan kesepian (plus terkadang kesal dan gelisah) tak perlu untuk dicecapi seorang diri...


Terima kasih buat kamu, yang selalu bisa bikin aku senyum... Walau hanya dengan menunjukkan paras lugumu...
Terima kasih buat kamu, yang selalu bisa bikin aku tenang, walau rasanya hati tak mungkin lagi terkendali...
Terima kasih buat kamu, yang bisa bikin aku optimis lagi dikala suntuk...
Terima kasih buat kamu, yang bisa mengerti aku...
Terima kasih buat kamu, yang sudah demikian percaya sama aku...

Dan yang paling penting,
Terima kasih buat kamu, yang sudah bersedia menerima aku... Saat rasanya tak ada lagi tempat tersisa untuk salah satu manusia tergembel di fakultas abu-abu...


Aku sayang kamu...
Sekarang...
Selalu...






-DitulisUntukMiLo,MySweetestPumpkin...-
-=(OCE)=-

Friday, February 01, 2008

Out-Of-Connection

Bangun kesiangan
Olahraga kecapekan
Sambel sarapan pagi masih berisi terasi padat
Sekarang gak bisa nyambung ke BAPEPAM-LK...

Untung belum bayar paket...

Smile does works!

Masih berhubungan dengan postingan sebelumnya (tentang "JTK")... Hmm, koq malah jadi berseri gini yah? Apa gw bikin CerBung aja kali (Ceria menyaBung)...

Akhirnya daku memutuskan untuk kembali ke tempat sebelumnya (yang sudah hampir tak coret garis hitem)... Hmm yasudah lah, harga dan waktu diatas segalanya.
Tapi...

This time, I'll try the classic approach. Lebarkan dan angkat bibir bagian samping... Lakukan dengan perlahan, namun penuh percaya diri. (Halah, jadi iklan apalagi kali ini, Lae?).
Guess what, atmosfer yang kemaren-kemaren nggak terasa lagi. Malah langsung disuruh keatas, n ketemu sama Mbak JTK. Tapi, this time, she looks at me... Whuaaa, serasa melayang... ^_^ (hey, hey, udah punya pacar kau, Boy!) Ups, yang penting nggak seuncomfortable tadi lah...

Nah, this time, I can concentrate firmly to my work, n ternyata efisiensi meningkat dengan pesat...



Uncle Pram's right,
smile DOES works...


P.S. Hari ini ketemu bling-bling... Huaaa, nice n beautiful... Miss U... ^_^

Thursday, January 31, 2008

Jutek...

Tadi pagi mau ngenet di tempat biasa (tempat yang sudah di-mention di postingan sebelumnya), tapi karena sesuatu dan lain hal, akhirnya terurungkanlah niat tersebut...

Apakah gerangan?
Ternyata tempat yang bisa dipake buat paket (lantai 2, kalopun lantai tiga masih nggak bisa dipake) lagi penuh... hikz,,,
Tapi, kalo cuma itu sih nggak papa, mungkin gw akan rela ngenet di lantai satu. Tapi... (lagi-lagi)...
AC-nya MATI!!!
Buseret deah!!! Secara ya, kalo lantai satu itu adalah lantai dimana nggak boleh paket (jadi mesti premium), lho pelayanannya malah nggak premium...???

Bukan cuma itu aja, tapi pelayanan dan sambutan dari si penjaga warnet sama sekali nggak friendly... Dy bahkan nggak ngeliat ke gw waktu ngomong... Halah, berasa cakep sejuta makna apa nih cewek??? dengan juteknya ngomong "Paketnya lagi penuh!".....

Nggak pake nengok...
Tak pake senyum...
Ndak pake "Mas", ato sapaan apa keq...
Bikin gondok ajah...

Wuih, nih penjaga warnet bener2 gw saranin bwt ikutan MIST dah, secara kata si Cukong (Irfan ESAC) temanya ttg service at the industry...


Hmm, walopun begitu, bukan berarti gw nggak akan menginjak ato menggunakan jasa internet di tempat itu, coz secara gw masih mahasiswa, belum berpenghasilan luar biasa, dan jasa non manusia yang ditawarin kompie-kompie di situ gw akui bagus. (IE-nya mendukung sistem penyimpanan cepat data yang gw butuhkan, di tempat laen bisa 8-10 menit per tanggal data, di sini cuma 3-5 menit per tanggal data. Secara ya, gw butuh data untuk 3 TAON sodara-sodara!!! Hitung aja dah waktu yang terbutuhkan...)

Whatever, gw cuma konsumen, dan di negara tumpah darah nan mulia tercinta ini, konsumen masih kerap jadi korban kesewenang-wenangan produsen (ato yang berhubungan dengannya)...
Hmmm, sulit memang untuk tidak ikut-ikutan jutek, secara sepengetahuan gw atmosfer negatif memiliki kemampuan luar biasa untuk menular...


Peace yoooo...
Stop Jutek
Hidup Damai Senantiasa...

AC Bergilir...

Hmm, mungkin titel diatas harusnya didahului kata 'sela', soale daku sebenarnya lagi donlot data (lageee)...

Anyway, yang menjadi topik hari ini adalah warnet tongkrongan daku yang kali ini entah kenapa pelayanannya kurang bikin puas... :(

Berawal dari tidak dapat digunakannya lantai 3, yang notabene gw rasa enak aja, soale orangnya seringan sepi, n nggak terlalu ngegangguin konsentrasi (kecuali kalo ada rombongan WarCraft-ers yang teriak-teriak "Hajar! Terus! Yesss!!! FIRST BLOOD!!!" dst...)
So, beralihlah daku ke lantai di bawahnya, a.k.a. lantai the second (lt. 2 maksudnya)

Lalu, tidak dapat digunakannya Paket 5, which is paket yang paling gw rasa menguntungkan bwt sistem penge-net-an gw.

Jadi, ceritanya di warnet ini (The Patch, Kober) ada beberapa jenis tarif.
Kalo secara standar (normal mode) tuh seribu perak per 12 menit (gochenc per jam). Yang ini rada-rada bikin bokek!!! Udah pernah nyoba...

Trus, paket laen yang gw inget tuh paket 'hepi hour' yang harganya gw lupa, tapi berlaku 7 jam. Nah, yang bikin nih paket kurang seksi (alah, ngomong opo toh, nduk?) paket ini baru bisa diakses pada pukul 00.00 (bah, ini paket ngenet apa weker buat mandi kembang tujuh rupa, yak?) Secara harga sih, kayaknya nih paket yang paling murah.

Selanjutnya adalah paket 5 jam (yang gw incer). Kenapa? Karena setelah perhitungan matematis dengan kemampuan seadanya, Tarif yang 18rb per 5 jam, jatoh-jatohnya jadi 3600 perak per jam. Paket yang satu ini lah yang gw rasa paling merepresentasikan kebutuhan ogut...

Lalu ada juga paket 3 jam (which is yang lagi digunakan pada kala ini). Yang mana tarifnya adalah 12 ribu per 3 jam (halah, ini mah anak SD juga tau kalo itungannya jadi 4rb per jam). Nggak terlalu menggiurkan bwt gw (sosis panggang dan hamburger extra mayonezz jelas lebih bikin gw berliur gembira...)



NOW, the last problem, waktu gw tek-in tempat bwt ngenet, gw sengaja milih tempat yang terkena imbas langsung dari angin buatan dengan suhu rendah (maksudnya, kena AC).
Jelas, kenyamanan adalah faktor utama...
Namun, ternyata saya kecele... (bukan ke pecel lele ya... Udah sebulan lebih kayaknya nggak makan tuh barang! Haram hukumnya untuk makan malam selain semangka atau nangka :... )
AC yang bersangkutan cuma aktif selama beberapa menit, untuk kemudian dimatikan, dan digilir.
Jadi, di lantai tersebut ada dua AC, dan pemasangannya pun ternyata digilir (udah kayak piala Raja aja tuh)... Selidik punya selidik, AC yang menjadi gaco'an gw, baru akan kembali pada posisi hidup pada pukul 00.00 !!!


ACape deee......

Kisah Kaleng Satu Liter...

Jujur dan Bersyukur...

Demikian dua kata kunci untuk renungan hari ini. Hmm, bagian dari rutinitas renungan yang sebenarnya baru dimulai beberapa hari yang lalu, namun dampaknya cukup terasa, tak lupa, memberi warna yang berbeda dalam menjalani hari nan fana (alah, mulai nyerocos dah...)

Jujur.
Quite simpel, secara definisi mudahnya: "Jangan bo'ong!"
But, lumayan (kalo nggak dibilang sangat) berat untuk diterapkan (kalo nggak biasa, tentunya). The problem is, being 'untruth' is part of being adult also (sepengetahuan dan sepengalaman daku). Sebut saja "White lie". Nah, yang bikin runyam, saking asyiknya dengan 'si putih', seringkali justru terbawa suasana hingga menjadi 'si abu-abu', 'si coklat', hingga bahkan 'si Bleki' (halo Bu KorFak... Halah, ngaco' lagi kan!)
Setelah ditelaah hari ini, lumayan banyak kejujuran yang mulai bisa diterapkan. Setidaknya, kata Om Batra (Promod Batra, red.) "Kejujuran akan membawa kelegaan hati" yah, demikian kurang lebihnya.

Bersyukur.
Yang ini kliatannya lebih mudah untuk diterapkan sih (bagi gw, demikian). Gimana enggak, bangun tidur doa (syukur masih bisa bangun n b'nafas lageh), mau ma'em doa (syukur masih bisa menikmati mie instan rebus/goreng di pagi hari, nasi plus 2 martabak di siang hari, n 2 slices of watermelon ato seplastik nangka di malam hari). dan sebagainya...
Walopun demikian, masih agak ribet juga sih setelah dipikir-pikir. Terlalu sering juga membandingkan berkat, rahmat, dan anugerah yang gw terima dengan apa-apa yang diterima sama orang laen (Si ini udah lulus, si itu udah kerja, si anu udah beli rumah n mobil...)
Yang kayak gini nih, yang dibilang ama Om-Bat (Promod Batra lagi, red.) yang justru bikin kita stress!



Sebuah perumpamaan yang sangat indah disampaikan Om-Prom (Promod Batra, lagi-lagi red.) untuk konsep syukur:

"Sebuah kaleng yang berukuran satu liter sudah berfungsi dengan amat baik bila dapat menampung satu liter air"

Sayangnya neh, kebanyakan dari manusia justru berpikir irasional. Segala upaya dan daya kerap ditempuh, agar si kaleng tadi bisa nampung satu galon! (secara ya, satu galon tuh 19 Liter!!! Udah dibuktikan dengan mengintip galon aer minum yang baru gw beli).

So, just be yourself n fill your one litre! Sukur-sukur bisa meng-upgrade diri jadi satu galon (Konsep upgrade ini dateng dari otak M gw, bukan saduran dari khotbah Om Mod (Udah tau lah maksud gw sapa)).





How's your can?

Kisah Kaleng Satu Liter...

Jujur dan Bersyukur...

Demikian dua kata kunci untuk renungan hari ini. Hmm, bagian dari rutinitas renungan yang sebenarnya baru dimulai beberapa hari yang lalu, namun dampaknya cukup terasa, tak lupa, memberi warna yang berbeda dalam menjalani hari nan fana (alah, mulai nyerocos dah...)

Jujur.
Quite simpel, secara definisi mudahnya: "Jangan bo'ong!"
But, lumayan (kalo nggak dibilang sangat) berat untuk diterapkan (kalo nggak biasa, tentunya). The problem is, being 'untruth' is part of being adult also (sepengetahuan dan sepengalaman daku). Sebut saja "White lie". Nah, yang bikin runyam, saking asyiknya dengan 'si putih', seringkali justru terbawa suasana hingga menjadi 'si abu-abu', 'si coklat', hingga bahkan 'si Bleki' (halo Bu KorFak... Halah, ngaco' lagi kan!)
Setelah ditelaah hari ini, lumayan banyak kejujuran yang mulai bisa diterapkan. Setidaknya, kata Om Batra (Promod Batra, red.) "Kejujuran akan membawa kelegaan hati" yah, demikian kurang lebihnya.

Bersyukur.
Yang ini kliatannya lebih mudah untuk diterapkan sih (bagi gw, demikian). Gimana enggak, bangun tidur doa (syukur masih bisa bangun n b'nafas lageh), mau ma'em doa (syukur masih bisa menikmati mie instan rebus/goreng di pagi hari, nasi plus 2 martabak di siang hari, n 2 slices of watermelon ato seplastik nangka di malam hari). dan sebagainya...
Walopun demikian, masih agak ribet juga sih setelah dipikir-pikir. Terlalu sering juga membandingkan berkat, rahmat, dan anugerah yang gw terima dengan apa-apa yang diterima sama orang laen (Si ini udah lulus, si itu udah kerja, si anu udah beli rumah n mobil...)
Yang kayak gini nih, yang dibilang ama Om-Bat (Promod Batra lagi, red.) yang justru bikin kita stress!



Sebuah perumpamaan yang sangat indah disampaikan Om-Prom (Promod Batra, lagi-lagi red.) untuk konsep syukur:

"Sebuah kaleng yang berukuran satu liter sudah berfungsi dengan amat baik bila dapat menampung satu liter air"

Sayangnya neh, kebanyakan dari manusia justru berpikir irasional. Segala upaya dan daya kerap ditempuh, agar si kaleng tadi bisa nampung satu galon! (secara ya, satu galon tuh 19 Liter!!! Udah dibuktikan dengan mengintip galon aer minum yang baru gw beli).

So, just be yourself n fill your one litre! Sukur-sukur bisa meng-upgrade diri jadi satu galon (Konsep upgrade ini dateng dari otak M gw, bukan saduran dari khotbah Om Mod (Udah tau lah maksud gw sapa)).





How's your can?

Wednesday, January 30, 2008

Sela Kedua... PILDUKAL Continued...

Naif dan jahat memang, vonis yang udah terketuk dalam benak gw.
Apakah sedemikiannya?

Beberapa hari ini, tak sengaja membuka beberapa media, n PILDUKAL menjadi salah satu ulasannya...
Pemikiran yang tertuang di artikel-artikel yang gw baca, ternyata agak berbeda dengan yang terpatri within me...
Seperti mendapat pencerahan, pertanyaan-pertanyaan counter justru bermunculan...


1. Kisah cerita banyak yang mirip, bahkan ada yang 'nyontek'
So? That's learning process! Nggak dalam sesaat seseorang bisa menciptakan karya jenius. Bahkan sesuatu yang dinilai mirip, sesungguhnya menawarkan nilai berbeda. Yang terpenting, hal ini jangan dijadikan budaya n pembenaran, tapi mesti semata-mata bwt pengembangan temporer aja.
Don't forget "The Departed", sebuah pilem 'plagiat' (pernah diposting di sini juga) yang justru menang Oscar!

2. Temanya kurang variatif
Agak senada dengan yang di atas, tema nggak selamanya sama, dan nggak selamanya tema yang terbatas berarti kisah yang tanpa makna. Toh di Hollywood sono, Cinta, Balas Dendam, dan Kerja Keras kerap jadi tema yang seakan tiada habis digali... Trus, kenapa kita (PILDUKAL) juga nggak boleh (mengeksplorasi tema)?

3. Teknologi katro, efeknya malah garing
So? Justru kalo nggak ada yang nonton lah maka teknologi PILDUKAL bakalan semakin katro! Coba, kalo nggak ada penonton, dari mana lagi penghasilan sineas-sineas lokal? Kalo nggak ada pemasukkan, mana bisa teknologi dan peralatan yang dipake bisa berkembang n lebih canggih? Yang ada, produk lokal malah mati, hilang, dan tak terkenang...

en akhirnya,
4. Dalam beberapa bulan berikutnya, pasti dapat langsung segera dinikmati di layar kaca...
yakin loh? Pilem yang katro sih boleh2 aja. Tapi, kayaknya setelah dipikir2, nggak mungkin segitunya lah. Kalo dilogis, emang PILDUKAL memiliki beberapa alasan rasionalnya sendiri yang membuatnya lebih cepat 'muncul' di layar kaca. (1) PILDUKAL berarti koneksi lokal dengan pihak-pihak berkepentingan dari pilem yang bersangkutan. Means, harusnya lebih 'gampang' ngurusnya dibanding ngurus ke 'luar-luar' segala. (2) Biaya pastinya lebih kecil dunks. (3) yang terpenting, nonton di tipi sama sekali berbeda dengan nonton di gedongan (Bioskop). Suasana jelas beda n banyak hal yang gak bisa dihadirkan oleh si kotak kaca!



Lihatlah,
setelah pemikiran lebih lanjut, pemikiran tentang PILDUKAL ini akhirnya mengubah vonis yang sebelumnya telah terjatuhkan. Hmmm, istilahnya, kasus PILDUKAL ini mengalami 'naik banding', dan akhirnya memperoleh keadilan yang semestinya...

PILDUKAL isn't as bad as it seems.

Sekarang, peraturan yang gw terapin dalam menghadapi hiburan layar lebar (Bioskop maksudnya, bukan layar tancep yaaa) hanya satu:

Gw mencari hiburan!!!
Siapapun (maksudnya pilem apapun) yang gw yakin bisa memberi kepuasan terbesar, dialah yang menjadi pemenang hatiku...



By the end, mekanisme pemilihan dan seleksi dari para konsumen itu mutlak perlu. Cuma dengan seleksi atas kualitas dan penampilanlah, maka para sineas bisa meningkatkan performa mereka.

Mereka yang bermutu akan bertahan, dan mereka yang di bawah standar akan sirna...

Semoga...





Penikmat Film

Sela Pertama... PILDUKAL

Mengapa 'sela'?
Mengapa pula 'pertama'?

Mudah, tulisan ini diketik ketika gw lagi nunggu proses archiving data skripsi di malam ini.
Pertama? 'coz gw yakin kegiatan ini (nulis blog kala ngunduh data) bakal beberapa kali lagi gw lakuin...

------------------------------------------------------------

Beberapa hari yang lalu, menonton sebuah film di Platinum, Margo City, Depok...
Bwt gw, itu film bukan sembarang film...
Mengapa?
Coz it's INDONESIAN movie!

Mungkin bwt banyak orang, it's not a big deal! Udah biasa gitu loh nonton pilem produk lokal di bioskop.
But to me, it's something unusual.
Alasannya simpel, gw selama ini menilai pilem produk lokal (pildukal) sebagai film 'kelas dua'.
Jahat banget ya? Well, tapi penilaian ini nggak semerta-merta juga gw jatuhin. It's all b'coz the quality of the previous and alot of movies that arrived in our theaters... (Especially when the 'Satanic Era'. You know what I mean)
Based on those experience, (and alot of un-nice recommendation also), menjatuhkan vonis nggak boleh seumur-umur nonton pildukal di bioskop.

Alasan yang memberatkan dalam penjatuhan vonis itu:
1. Kisah cerita banyak yang mirip, bahkan ada yang 'nyontek'
2. Temanya kurang variatif
3. Teknologi katro, efeknya malah garing
en yang paling penting,
4. Dalam beberapa bulan berikutnya, pasti dapat langsung segera dinikmati di layar kaca...

So, by those evidences, I rest my case...





Berakhirkah sampai di sini?

to be continued...

Wednesday, January 09, 2008

Susah ditebak...

Komputer akhirnya idup lagi...
Setelah sekitar 3 hari mati tanpa tanda-tanda beres. Baru aja mo nyabutin kabel-kabelnya guna dibawa ke tempat servis, ealah iseng-iseng nyoba, tau-tau nyala...
Keberuntungan memang agak susah ditebak...

btw, hari ini ketipu ama kalender. Nunggu bikun di halte balairung, tapi koq gak muncul-muncul...??? Tiba-tiba pingin ngintip Agenda UI (baru beli nih, bagus lho desainnya! Gak heran, tim produksinya banyak bet!) Wuaduh rek, tanggal merah rupanya!!!
Kebodohan memang agak susah ditebak...

Tuesday, January 08, 2008

New Year

It's new year, yet still the old me...

Rutinitas seringkali menjadi alasan tepat bagi munculnya kebosanan. Hal yang sama, terus mengalami perulangan, terutama bila perasaan menyenangkan jauh dari penerimaan, kerap menjadi dasar pemikiran kalimat tersebut.

Persoalan muncul ketika sang rutinitas, sang algojo yang kerap dipermasalahkan tadi, akhirnya menghilang, sirna, dan tak lagi memunculkan jejak.
Untuk sesaat, perasaan bebas, lepas dari kekangan, dan naluri untuk merasakan lebih bahagia mendominasi aliran adrenalin dan dopamin...
Namun, sesaat hanyalah sesaat. Tak lebih dan tak kurang...
Kebingungan, rasa panik, dan (kadangkala) depresi menjadi gundukan baru yang menimbun lubang lama... Lubang rutinitas...

Bagi sebagian orang, hal tersebut dapat dilalui dengan baik, dan akhirnya terciptalah pola formal baru (baca: rutinitas baru) yang mungkin lebih dirasa baik... But, for one case or another, keberputaran yang (nyaris) tanpa akhir justru dihadapi...
For me, it's the second.
Sigh...

Sempat berpikir untuk menghadirkan kembali rutinitas lama, waktu yang tersedia masih beberapa hari untuk mengambil keputusan...
Quite pathetic, yet confusing...

Apapun jalannya, seorang positifis akan selalu memandang sesuatu yang baru sebagai sebuah peluang... So, the new nice and warm routinity lies there in front of me... I know it...

Monday, October 22, 2007

Sh*t

Keteraturan...
What a paradox...

Well, semua berawal dari sebuah keteraturan yang (mungkin hampir) sempurna. What a drama! Seems like everything is working well and played awesomely... Next, even a (more) completely perfect order, and once again I found comfort in it...

Seems like heaven, heh?
Try me now, then!
Haven't got anything workin' right! All's just like sh*t, loads of them, flowing through my mind...
Somethin's wrong I believe. Bahasa Cungkuoknya, aliran Chi gw is totally busted.
Halah, apah lagih ituh???

Lebaran bisa jadi titik balik,
tapi,
balik ke mana?
balik dari mana?

Hmmm, jadi senyum sendiri dengerin lagu background yang lagi diputer ama Mas-Mas Warnetnya:
"Hanya waktu yang bisa jawab semua itu... Sampai kapan, aku tak tahu..."

Yossshhhh, life's a bless...
Let's turn it out!!!


Minal Aidin, Everybodeh!!!

Friday, July 13, 2007

Friends... *

A good friend in need, a good friend in deed.

Pernah dengar pepatah di atas? Well, hari ini gw merasa dengan jelas maknanya.
Kalo mereka bukan benar-benar teman, mereka nggak akan turut ikutan susah dan nongkrong di jalan raya.
Kalo mereka bukan benar-benar teman, mereka nggak akan mau ikut-ikutan buang pulsa n ikut pusing nyari solusi.
Kalo dia bukan benar-benar teman, dia nggak akan sibuk-sibuk ngehubungin segala macam kenalan yang dia kenal di tengah malam.
Dan kalo dia bukan benar-benar teman, dia nggak akan dengan cepat membuka dompet dan ikut 'urunan' tanpa menghitung-hitung berapa yang dia kasih.


I feel lucky tonight, karena malam ini teman-temanku benar-benar terbukti sebagai teman yang sebenar-benarnya...





How's the story? Here it is...

Berawal dari perkuliahan pertama semester gasal di Fakultas Ekonomi UI, Kelas Pengantar Ekonomi 1, Ruang A.1.04. Dosennya Bu Sulastri Soemarno Soerono, n asdosnya Kak Eri Fitri Sahminan...
Belum ada yang gw kenal, coz masa OTB nggak pada satu 'suku'. Semua masih pada asing, dan ruangan tersebut terasa terlalu dingin bahkan untuk ukuran jasa sebuah AC tua...
Berawal dari tepukan singkat ke pundak cowok berkulit gelap di depan, "Halo, kenalan dong. Ronald."
Lalu ke orang di samping, di belakang, dan seterusnya...
Riza, Rio, Rushli, Rika, Rama, dan berderet nama baru lainnya menjadi kosakata simpanan terkini dalam perbendaharaan hubungan sosial yang ada.
Hari itu hari Senin, tapi baru di hari Rabu lah, tepatnya di kelas MatEk Pak Nachrowi Djlalal Nachowi, Ph.D., sejarah -nama panggilan- kami dimulai.
Roclus - Komandan
Riza - AzRot
Rio - Tukang Jawab (kelak, berkat GKE '03 direvisi menjadi Om Jin a.k.a. OJ)
Rama - Harry Potter (ini sih sejak kelas bu Sulastri)

Sistem pembagian kelas kala itu masih menggunakan pengelompokkan berdasarkan abjad secara keseluruhan. Simpelnya, semua mahasiswa diurut dari nomor satu sampai sekian berdasarkan abjad namanya belaka. That's why di semester ini tidak terasa yang namanya anak Mene', IE, atau Akun. Yang ada cuma satu, huruf depan nama kami sama-sama "R"

Kongkow-kongkow nggak jelas, invasi ke kantin fakultas tetangga, nyelonong sampe ke Asrama, hingga guling-guling dan tidur siang di Kamar CIII/29 Asrama UI Depok menjadi agenda yang cukup sering dilakukan. (Well, pagi kuliah, trus kosong melompong sampe kuliah jam 2. Mo ngapain coba?)
Belajar bareng, nonton bareng, hura-hura bareng, hingga dosa bareng udah kami lakukan di semester itu...
Sapi-bantet putih-coklat, kue tart tepat di pintu ruang Ujian (lupa, UTS apa UAS), hingga todongan tak beralasan jadi memori tersendiri bwt kami.
"Solidarity of 'R'"
Yup, demikian 'geng-gong' tersebut kami namai. Sesuai sejarahnya, di mana kelas kami dikuasai bocah-bocah yang bikin orang cadel kesal :p (walaupun dalam perkembangan lebih lanjut, geng-gong ini diputuskan untuk tidak se-eksklusif itu, dan orang 'non-R' seperti Matt misalnya, diizinkan bergabung)

Sudah hampir empat tahun sejak Bu Sulastri masuk dan mengabsen kami satu persatu
Sudah hampir empat tahun sejak Pak Nachrowi mengizinkan kami melepas jaket kuning di kelas dan sambil menyeruput air di gelas aqua-nya, menunjukkan (salah satu) mahasiswa tertegap di kelasnya sebagai 'komandan kelas'.

Sekarang, saat sebagian besar rekan '03 berkutat di malam-malam menjelang sidang yang mencekam, kenangan di atas kembali menggelitik.
Dan begitulah, diprakarsai percakapan antar pengawas Ujian SP (Roclus n Rima), lalu obrolan dengan si Chicweed (Rita 'Tata-chan'), plus cetting dengan OJ yang udah ngantor-magang,
Solidarity of R memutuskan untuk mengadakan acara kumpul2...


Batal.
Yah, itulah yang gw pikirkan saat setelah sekitar 6 sms dikirim serentak, namun baru satu (OJ) yang mereply. "Jangan langsung batal, Nal. Tunggu sampe D-Day lah!" demikian serunya menyemangati.
OK, then. Gw tunggu reply yang lain.
Hmmm, ternyata tak sia-sia.
Satu-persatu mulai memberi jawaban positif, dan Pondok Indah Mall diserahi amanah untuk menjadi saksi per-kongkow-an kami kembali...
Mulanya cuma 5 orang yang positif ikut: Clus, Zaza, OJ, Chicweed, n ReemsQ.
Mia hampir bergabung, tapi karena orang BirPen yang seyogyanya menandatangani surat sidangnya belum kembali dari Sholat Jumat dan makan siang ("coba balik lagi jam 3 aja ya." What??? Makan di mana, Pak? PIM?), Mia pun urung bergabung.
Cerita punya cerita, sang HarPot ternyata ikut bergabung. Dan Matt Danalan Saragih juga ikut menyusul... (tentang Rama, kita ceritanya lagi nungguin Matt sambil duduk2 ngaso di sofanya 21. Trus ada gambar gede Heri Poter yang seukuran asli gitu. Guess what, mereka benar2 mirip!!! Sayang doski nggak rela mempermalukan diri dan berdiri di samping poto Daniel sembari turut bergaya memegang magic-wand :p)


Matt akhirnya muncul (dan akhirnya diketahui doski kagak bawa mobil. Pantesan lama banget! Ngakunya udah di arteri tapi koq kagak nongol-nongol!) dan agenda kembali dilanjutkan.
Rencananya, Agenda hari ini terbagi atas 2 hal : Makan-makan dan nyanyi-nyanyi
1. Makan-makan
Mengingat sang Komandan orang yang murah hati, maka diputuskanlah bahwa beliau akan menyediakan appetizer serta desert bagi kaum lapar dan dahaga ini. (Main course? Nanti kali' ya. Kalo di KaFE boleh deh :p)
Yang menarik perhatian adalah desertnya, which is eskrim gede gitu. Lupa apa nama counternya (kita makan di foodcourt lantai teratas PIM 2). Mesen dua es krim, Choco-something with coffee and Grand Canyon caramel...
Nah, masalahnya sendok cuma dikasih empat.
Maka, 5 cowok baik-baik dan 2 cowok berbudi ini melakukan kegiatan yang diamanahkan Pancasila khususnya sila ke entah butir ke tau'ah : Berbagi dan perhatian bagi sesama...
Maka digilirlah benda-benda yang ada, mulai dari eskrimnya, mangkok-mangkoknya, hingga sendoknya. Mesra sekali bukannn???

Next, second agenda:
2. Nyanyi-nyanyi.
Setelah menentukan akan ber-karaoke di Plaza Semanggi, serta membuat song-list yang akan dipermak habis-habisan oleh kami (Kucing Garong, Liu Sing Hua Yen, SMS, Kemesraan, n whatsoever), rombongan segera berangkat untuk menuju TKP (Tempat Karaoke Pesakitan)

Perjalanan diawali dengan baik dan lancar, bahkan sempat terjadi transaksi Buku Keown antar mobil di tengah jalan raya (iseng banget sih). Namun, memasuki jalan raya besar menuju lingkar Semanggi, mobil Zaza (ada Za, OJ, n CLus di sini. Rama, Rita, Rima, n Matt di Avanzanya Rama) tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda karaoke prematur, bahkan sebelum para penumpangnya siap ikut berkaraoke (baca : bunyi berderit kenceng banget, even Zaza bilang sempet ada percikan api. Buset, lengkap dengan kembang api neh :~< ).
Demi keamanan dan keselamatan anggota sindikat, mobil ditepikan dan seluruh anggota berkumpul mendekat.


Di sinilah gw yakin ama mereka yang benar-benar menunjukkan ke-teman-an sejatinya.
Pulsa udah bukan halangan lagi. Tiap mau nelpon, semua langsung bertanya, nomornya apa? (berhubung kami menggunakan jasa pelbagai operator telekomunikasi). Dan atas asas efisiensi, pemilik nomor operator yang terafiliasi akan langsung mengulurkan hp-nya.
Matt, yang tidak terlihat sebegitunya, ternyata paling tahu mesin diantara kami. Nggak nyangka dah, nih mantan Kadept Apresbud ternyata gokil juga soal Poli, mesin, dinamo, and such. Gw salut dah, Matt!!!
ReemsQ yang bokapnya jago mesin juga langsung mengontak dan berkonsultasi dengan beliau (at the end, Matt mengobrol dengan amat 'dekat' dengan beliau... Ehm ehm...)
OJ, ngontak temennya bwt nyari pertolongan terdekat, n Tata n me are there, ready to support anything yang bisa kami tolong (mengingat mesin, area, serta network di bidang ini bukan keahlian kami).
Rama? Hmm, beliaulah yang sebenarnya paling sibuk. Semua orang dari jaringan kongsinya sepertinya sudah ditelpon ama tuh anak. Mulai dari keluarga, rumah, montirnya, sampe kenalan-kenalan lain... Very very helping indeed.


Finally, diputuskan untuk menggunakan jasa derek.
Rama langsung mengontak sebuah perusahaan jasa peng-gerek-an, n without a sudden (gak nyampe lima menit), sebuah mobil penggerek sudah parkir di sebelah kami.
Tujuan sudah ditetapkan, klinik praktek bokapnya Rama di bilangan Palmerah. Lokasinya gak terlalu jauh n di deketnya ada bengkel yang sudah terpercaya.
Then off we go...

Di perjalanan, perusahan jasa yang tadi dihubungi, menelpon balik ke Rama, menanyakan konfirmasi apakah jadi menggunakan jasa mereka?
Di sini lah kebingungan terjadi.
Lhooooo, kalo emang belum ngirim truk derek, trus itu truk siapa????
Halah mak, gimana kalo minta tarif lebih tuh???
Well, mengingat kondisi dan keadaan yang mendesak, kami akhirnya bersikap rada 'pasrah' dengan memikirkan taktik negosiasi selanjutnya.

Finally, nyampe juga.
Gw lirik2 deh tuh mobil derek, n label di kaca depannya ditempel stiker "Polda Metrojaya".
Ooooohhhh, polisi toh.
Jadi gimana nih Pak?
Thanx God, tarifnya sama persis dengan negosiasi dengan pihak jasa yang tadi ditelpon. (225rb. Entah itu underpriced ato overpriced. Safety is our first priority at that time)
Bayarnya gimana?
Gak pake banyak nyerocos, smua langsung buka dompet n nyomot lembar-lembar biru bersulam n ungu kemerahan, langsung diselipkan di telapak Rama. Entah itu ada berapa.
Setelah dihitung seksama, ternyata duitnya lebih. Ah sudahlah, Ram simpen aja, lo udah sibuk banget dari tadi.
Pen-derek-an berhasil, dan Pak Polisi pulang.
Terima kasih Pak.

Keputusan akhir, mobil Zaza nginep di klinik tersebut.
Zaza sendiri menginap di tempat Rama.
OJ n Matt bakal balik bareng (naek taksi), n gw ngikut mpe Blok-M untuk selanjutnya terus ke Depok.
Chicweed nginep di rumah ReemsQ, n mereka pulang naik taksi.
Rama, mengantar kami semua ke tempat yang layak untuk menunggu kendaraan...



What an experience...
What a truly treasure, friendship is...
What a truly friends, they are...

Baru kepikiran, Rama (yang amat banyak berperan di malam ini), tadinya bahkan tidak sempat disebut-sebut untuk ikut di-SMS (semata-mata karena lalai aja, bukan sengaja).
Sepertinya, ini yang disebut orang sebagai "God works in a mysterious way"



Di jalan,
sebelum berpisah,
gw tersenyum.


I know who my friends are...



* didekasikan untuk mereka, yang merupakan SUNGGUH teman-temanku

Monday, July 09, 2007

Hard!

Life will never be easy!
Hidup nggak akan bisa gampang!

Ungkapan sederhana yang sudah aku tahu dari dulu. Aku bahkan tahu bahwa itu bukan sekedar ungkapan. Hidupku nggak pernah mudah. Sampai detik ini, kenyataan tersebut masih belum berubah (tentu saja, tanpa pretensi hidup orang lain lebih mudah).

Seringkali berpikir, sebegitu sulitkah menjadi orang baik? Sesuatu yang keras di luar sana tidak serta merta membuat seseorang punya hak prerogatif untuk menjatuhkan vonis dengan mudah, hanya karena faktor keberuntungan belaka pula. Admit it, apa yang kita punya nggak benar-benar kita yang miliki. So, kenapa mesti ada kekerasan yang nggak perlu?

Aku benci dunia yang tidak adil! Dunia yang melihat insan bukan sebagai makhluk mulia, tapi lebih sebagai komoditi belaka. Kata siapa tolak ukur menjadi harga mati?

Apapun, berkilah dan berceloteh saat ini mungkin tiada guna. Basi. Mubazir.
Setelah ini, harus keluar kembali. Menghadapi dunia yang sama lagi. Dunia yang keras itu lagi, yang selalu terlihat besar dan berwibawa, tapi angkuh dan tak terjangkau.
Hmmm... Tunggu saja...



Life'll never be easy...

So What?




Richard Marx

Right Here Waiting

Oceans apart
Day after day
And I slowly go insane
I hear your voice
On the line
But it doesn't stop the pain
If I see you next to never
How can we say forever

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

I took for granted
All the times
That I though would last somehow
I hear the laughter
I taste the tears
But I can't get near you now
Oh can't you see it baby
You've got me goin' crazy

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

I wonder how we can survive
This romance
But in the end if I'm with you
I'll take the chance

Oh, can't you see it baby
You've got me goin' crazy

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Waiting for you


-------------------------------------------------------


You don't have to say nothing,
I trust you and I can see it through your eyes...

Don't ever say sorry,
'coz having you beside me is already giving me more than what I want...

and Don't be so worry,
a li'l "distance" will never set me apart from you...

Besides, I've given you my heart already, right?

Sunday, July 01, 2007

Having Funnn






















One of the greatest movie I'd ever saw!!!
Visual effectnya keren banget... Soo smooth, so cool...
Viva Optimus Prime!!!

Friday, June 29, 2007

Wisata ke Carita...

Biarlah gambar yang berkisah...































































































































Rapat Rekrutmen...

































ESAC sedang membutuhkan darah2 muda yang segar dan bergejolak semangat tinggi...

Ayo rapaatttt!!!

Ayo daftarrrrr!!!

Gadget baru...

Presenting, my new InfraReddie :














































Seneng deh, akhirnya benda itu bisa bernaung di kamarku...
Lumayan, dengan harga 40 ribu rupiah, poto2 dari K300 tercintah bisah pindah keh sinih...


Btw, mirip tikus ya?